Jangan Pernah Remehkan Kesyirikan

Posted on
loading...
bahaya+syirik Jangan Pernah Remehkan Kesyirikan

Tidaklah cukup seseorang  hanya mengenal tauhid dan mengamalkannya. Pengetahuan perihal syirik pun mutlak diharapkan biar seseorang tidak terjerumus ke dalamnya. Sayangnya, banyak  orang tidak memahami hakikat kesyirikan dan betapa dahsyat bahayanya sehingga mereka pun meremehkannya. Padahal semakin berpengaruh tauhid seseorang, seharusnya dia semakin takut akan syirik dan khawatir menjadi pelakunya. Sebaliknya seseorang yang tidak memahami hakikat tauhid akan meremehkannya sehingga tidak ada sedikipun rasa takut di hatinya. Semoga klarifikasi ringkas ini, menggugah kesadaran kita biar tidak lagi meremehkan dosa yang sangat besar ini.

Dahsyatnya Bahaya Syirik
Cukuplah ayat berikut menggambarkan dahsyatnya dosa kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,
Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa’:48)
Tidak ada seorang pun yang terlepas dari gelimang dosa. Ampunan dosa merupakan rahmat Tuhan yang diberikan kepada semua hamba. Namun, hal ini dikecualikan bagi orang-orang musyrik (jika hingga mati ia masih membawa dosa syiriknya tanpa bertaubat, ed), sebab begitu besarnya dosa syirik. Ini memperlihatkan bahwa dosa syirik merupakan dosa yang sangat besar.
Dalam ayat lain Tuhan Ta’ala menjelaskan bahwa pelaku kesyirikan diharamkan masuk ke dalam surga, padahal nirwana yaitu tujuan selesai seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,
…sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka niscaya Tuhan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah:72)
Dari Ibnu Mas’ud radliyallah ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyembah selain Allah, niscaya ia masuk ke dalam neraka.“[1]. Sungguh, benar-benar mengerikan ancaman kesyirikan. Na’udzu billahi min dzaalik.
Seluruh Rasul Mengingatkan Bahaya Syirik
Setiap Rasul yang diutus oleh Tuhan Ta’ala niscaya menyeru perihal ancaman syirik. Mereka semua mendakwahkan tauhid dan memperingatkan perihal syirik. Hal ini sebagaimana dijelaskan Tuhan Ta’ala :
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Tuhan (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An Nahl:36).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan perihal ayat ini, “Seluruh para rasul menyeru untuk beribadah hanya kepada Tuhan dan melarang untuk menujukan ibadah kepada selain-Nya. Tuhan Ta’ala tidak mengutus seorang rasul pun semenjak terjadinya kesyirikan pada kaum Nuh yang diutus rasul kepada mereka kecuali untuk tujuan tersebut (hanya beribadah kepada Tuhan semata). Rasul yang pertama diutus ke muka bumi hingga epilog para Rasul, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salaam, semuanya mendakwahkan sebagaimana yang Tuhan perintahkan :
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kau melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS. Al Anbiya’:25)”[2].
Jelaslah bahwa kesyirikan yaitu dosa yang sangat besar sehingga seluruh Rasul diperintahkan untuk memperingatkan umatnya dari dosa ini.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam  
Berlindung dari Kesyirikan
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengajari kita untuk berlindung dari kesyirikan. Beliau berdoa:
Ya Allah, bahwasanya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan saya mengetahuinya. Dan saya memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak saya ketahui.”[3].
Bagaimana mungkin kita tidak takut terjerumus syirik padahal Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam saja takut terhadap problem ini?
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Khawatir Terjerumus Syirik
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mempunyai kedudukan yang mulia. Tuhan Ta’ala berfirman perihal beliau,
Sesungguhnya Ibrahim yaitu seorang imam yang sanggup dijadikan pola lagi patuh kepada Tuhan dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) ” (QS. An Nahl:120)
Tuhan menyifati dia dengan sifat-sifat mulia yaitu :
  • Beliau yaitu imam, yakni pola dalam kebaikan
  • Beliau yaitu orang yang selalu taat, senantiasa melaksanakan amal ketaatan dan nrimo dalam beramal
  • Beliau yaitu seorang yang hanif, yakni yang senantiasa menghadap kepada Tuhan dan berpaling dari selain-Nya
  • Beliau tidak termasuk golongan orang-orang musyrik, yakni berlepas diri dari orang-orang musyrik dan agama mereka [4]
Sifat-sifat yang dimiliki oleh Ibrahim ‘alaihis salaam yaitu wujud dari kebersihan tauhidnya. Namun di sisi lain, dia masih berdo’a kepada Allah,
Dan (ingatlah), dikala Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah saya beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim:35)
Lihatlah, kedudukan dia yang mulia dan kebersihan tauhid yang dia miliki tidak menjadikan dia merasa kondusif dari kesyirikan. Bahkan dia masih berlindung kepada Tuhan dari bentuk kesyirikan yang paling zhohir (paling nampak), yaitu menyembah berhala. Padahal kita ketahui bersama bahwa Ibrahim-lah yang menghancurkan berhala-berhala kaumnya.
Tuhan Ta’ala menjelaskan alasan yang mendasari ketakutan Ibrahim terhadap syirik dalam firman-Nya,
Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia”(QS. Ibrahim:36).
Jika seseorang mengetahui bahwa banyak di antara insan terjerumus ke dalam syirik akbar dan mereka tersesat menjadi penyembah berhala, tentunya wajib bagi dia untuk takut terjerumus dalam kesyirikan yang telah menyesatkan banyak orang. Oleh sebab itu Ibrahim at Taimi mengatakan, “Siapakah yang merasa kondusif dari tertimpa tragedi alam kesyirikan sesudah Ibrahim ‘alaihis salaam?!”(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim). Tidak ada yang merasa  kondusif terjerumus dalam kesyirikan kecuali orang yang kurang pintar dalam memahami tauhid dan tidak mengerti larangan dari berbuat syirik.[5]
Lihatlah diri kita. Siapakah kita? Seberapakah keilmuan kita perihal tauhid? Namun kita seakan-akan sudah merasa kondusif dari ancaman syirik.
Kesyirikan Dikhawatirkan Menimpa Para Sahabat rodhiyallahu ‘anhum
Para sobat yaitu generasi terbaik umat ini. Keteguhan kepercayaan mereka sudah teruji, pengorbanan mereka terhadap Islam sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun demikian, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam masih mengkhawatirkan kesyirikan menimpa mereka. Beliau bersabda.
Sesuatu yang saya khawatrikan menimpa kalian yaitu perbuatan syirik asghar.Lalu para sobat menanyakan pada beliau, “Apa yang dimaksud syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, (Contohnya) yaitu riya’. ”[6]
Dalam hadist di atas terdapat pelajaran perihal takut kapada syirik. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam khawatir kesyirikan menimpa sobat muhajirin dan anshor, sementara mereka yaitu sebaik-baik umat. Maka bagaimana terhadap umat selain mereka? Jika yang dia khawatirkan menimpa mereka yaitu syirik asghar yang tidak mengeluarkan dari Islam, bagaimana lagi dengan syirik akbar? Wal ‘iyadzu billah !![7]
Bukti Rasa Takut yang Benar
Setiap orang yang higienis tauhidnya niscaya mempunyai rasa takut terhadap syirik. Oleh sebab itu, orang yang paling higienis tauhidnya yakni Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak doa biar dijauhkan dari syirik. Demikian juga Ibrahim ‘alaihis salaam berdoa kepada Tuhan biar dijauhkan dari kesyirikan dan menyembah berhala. Sedikit sekali orang yang tidak mempunyai rasa takut terhadap kesyirikan akan tepat tauhidnya, bahkan hal ini mustahil terjadi.  Setiap orang yang berusaha membersihkan tauhidnya, dia akan senantiasa bersemangat dalam bertauhid dan takut terjerumus syirik. Jika sudah muncul rasa takut terhadap syirik, rasa takut dalam hatinya tersebut akan menjadikan seorang hamba bersemangat. Rasa takutnya akan mengakibatkan bebrapa faedah :
  • Dia akan terus mempelajari kesyirikan dan macam-macamnya sehingga tidak terjerumus ke dalamnya
  • Akan senatiasa mempelajari tauhid dan macam-macamnya sehingga muncul dalam hatinya rasa takut terhdap syirik
  • Seseorang yang takut terhadap syirik, hatinya senantiasa istiqomah di atas jalan ketaatan dan mengharap wajah Tuhan Ta’ala 
  • Jika melakuakan suatu dosa atau kesalahan akan segera memohon ampun kepada Allah, sebab butuhnya dia terhadap ampunan dosa.[8]
Lihatlah Fenomena di Sekitar Kita
Pembaca yang dirahmati Allah, fenomena kesyirikan merebak di sekitar kita. Dari kesyirikan yang tersembunyi hingga bentuk yang paling dhohir, baik itu syirik besar maupun syirik kecil. Di kota hingga pelosok desa marak dengan acara syirik. Kesyirikan di zaman ini tidak mengenal waktu, baik siang maupun malam, baik dalam kondisi susah maupun senang. Media yang beredar juga tak ketinggalan memperlihatkan aneka macam bentuk kesyirikan. Bahkan para cendekiawan muslim yang dianggap tokoh agama pun ikut andil dalam mendakwahkan kesyirikan. Wahai saudaraku, hati ini sangat lemah.  Sungguh, dengan fenomena tersebut, hati kita mempunyai kecenderungan untuk gampang terjerumus dalam syirik. Tidak ada yang sanggup kita lakukan kecuali membentengi diri kita dengan ilmu tauhid yang benar dan berusaha untuk mempelajari kesyirikan biar kita sanggup menjauhinya. Usaha doa pun harus senatiasa kita lakukan. Semoga Tuhan Ta’ala meneguhkan kita di atas jalan tauhid hingga selesai hidup menjemput kita, sebagaimana Tuhan firmankan,
(yaitu) di hari harta dan belum dewasa pria tidak berguna(88), kecuali orang-orang yang menghadap Tuhan dengan hati yang bersih(89)” (QS. As Syu’araa:88-89)
Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “ Hati yang higienis maksudnya hati yang selamat dari kesyirikan dan keragu-raguan serta selamat dari rasa cinta terhadap keburukan serta higienis dari bid’ah dan perbuatan dosa…”[9]. Wallahul musta’an.
Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki
Muroja’ah: M.A. Tuasikal
Sumber : www.muslim.or.id
Catatan Kaki:
[1]. HR. Bukhari 4498
[2]. Fathul Majiid, hal 24. Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh. Penerbit Muasasah al Mukhtar. Cetakan pertama tahun 1425 H/2004.
[3]. HR. Ahmad (4/403). Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiihul Jaami’ (3731) dan Shahih at Targhiib wa at Tarhiib (36).
[4]. I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitaabi at Tauhiid, hal 71. Syaikh Shalih Fauzan. Penerbit Markaz Fajr. Cetakan kedua tahun 2003.
[5]. Fathul Majiid, hal 79.
[6]. HR. Ahmad 5/428,429. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyampaikan bahwa sanad hadits ini shahih, namun ada yang munqothi’ (terputus).
[7]. I’aanatul Mustafiid bi Syarhi Kitabi at Tauhiid, hal 90.
[8]. At Tamhiid li Syarhi Kitaabi at Tauhiid hal 43-44. Syaikh Shalih Alu Syaikh. Penerbit Daaru at Tauhiid. Cetakan pertama tahun 1423 H/2002.
[9]. Taisiirul Kariimir Rahman, Tafsir Surat Asy Syu’araa,  Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di. Penerbit Daarul Hadist.

loading...