Larangan Memotong Kuku Dan Rambut Bagi Shahibul Qurban

Posted on
20840782_1688524771160569_5216346608153633464_n Larangan Memotong Kuku Dan Rambut Bagi Shahibul Qurban
Shahibul Qurban Tidak Potong Kumis dan Kuku selama 10 Hari Awal Dzulhijjah
-Larangan ini berlaku hanya kepada shahibul Qurban yaitu biasanya kepala keluarga (bapak), alasannya qurban itu berlaku satu untuk satu keluarga dan dikeluarkan oleh kepala keluarga yang menanggung nafkah
-Larangan ini diperselisihkan hukumnya antara makruh dan haram, pendapat terpilih yaitu haram sesuai dzahir hadits
Larangan memotong rambut meliputi kumis, rambut kemaluan, ketiak dll
Telah kita ketahui bahwa bagi shabihul qurban contohnya kepala rumah tangga (bapak) yang akan berqurban dihentikan memotong kuku dan rambut selama 10 hari awal bulan Dzulhijjah Sampai ia qurbannya disembelih (larangan ini tidak berlaku bagi anggota keluarganya semisal istri). Larangan ini hukumnya haram bukan makruh alasannya aturan asal sesuatu larangan yaitu haram.
sebagaimana dalil dari beberapa hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallambersabda,
مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sedikitpun bab dari rambut dan kukunya.”[1]
Di riwayat lainnya,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih (kurban) maka hendaknya dia tidak memotong rambut dan kukunya”[2]
Kumis termasuk rambut yang dihentikan dipotong
Bagi pria mungkin ada yang mempunyai kebiasaan mencukur atau merapikan kumisnya. Ia tetap memotong dan merapikan kumis alasannya yang menyangka bahwa memotong rambut hanya rambut di sini maksudnya hanya rambut kepala saja.
Yang benar bahwa yang dimaksud rambut kepala di sini meliputi juga kumis. Makara sebaiknya pria yang menjadi shahibul qurban hati-hati dengan kebiasaan mencukur atau merapikan kumis. Jangan mencukurnya hingga binatang qurban disembelih
Dalam aliran Al-Lajnah Ad-daimah (semacam MUI di Saudi) dijelaskan
حرم على من أراد الضحية من الرجال أو النساء أخذ شيء من الشعر، أو الظفر، أو البشرة من جميع البدن، سواء كان من شعر الرأس، أو من الشارب أو من العانة، أو من الإبط، أو من بقية البدن
Haram bagi mereka yang ingin melaksanakan qurban baik pria maupun wanita, memotong rambut badannya, memorong kuku atau bab kulitnya (misalnya kulit akrab kuku). Sama saja baik itu rambut kepala, kumis, rambut kemaluan atau rambut ketiak serta rambut lainnya di badannya.”[3]
Sebagaimana juga larangan mencabut uban di rambut kepala, maka ini meliputi semua rambut di kepala menyerupai jenggot dan kumis.
Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullahmenjelaskan mengenai hal ini,
نهى عن نتف الشيب : أي الشعر الأبيض من اللحية أو الرأس
“Larangan memcabut uban yaitu rambut putih pada jenggot (jambang) dan rambut kepala.”[4]
Bagaimana dengan yang tidak sengaja atau tidak tahu
Karena hukumnya haram, mungkin ada yang bertanya bagaiamana atau apa kafarahnya jikalau melanggar larangan ini?
Syaikh Abdul Aziz bin Bazrahimahullah menjelaskan bahwa tidak ada kafarah atau eksekusi dalam hal ini, cukup bertaubat dan beristigfar saja, dia berkata:
ومن أخذ شيئاً من شعره أو أظفاره أو بشرته في العشر ناسياً أو جاهلاً وهو عازم على التضحية فلا شيء عليه ، لأن الله سبحانه قد وضع عن عباده الخطأ والنسيان في هذا الأمر وأشباهه ، وأما من فعل ذلك عمداً فعليه التوبة إلى الله سبحانه ولا شيء عليه اهـ . ( يعني ليس عليه فدية ولا كفارة ) .
Barangsiapa yang memotong rambut atau kukunya alasannya lupa atau tidak tahu sedangkan ia ingin melaksanakan qurban, maka tidak mengapa baginya (tidak ada kafarah). Karena Yang Mahakuasa subhanuhu memaafkan hamba-Nya dari kesalahan dan lupa dalam kondisi ini dan semisalnya. Adapun jikalau melakukannya dengan sengaja maka wajib baginya bertaubat kepada Yang Mahakuasa dan tidak ada kewajiban apapun baginya (yaitu tidak ada fidyah atau kafarah).”[5]
Demikian biar bermanfaat
Penyusun: Ustadz dr. Raehanul Bahraen hafidzahullah
——-
[1] HR. Muslim
[2] HR Muslim
[3] Fatawa Al-Lajnah juz 18 no 181, sanggup di kanal dihttp://www.alifta.net/fatawa/fatawachapters.aspx?View=Page&PageID=5174&PageNo=1&BookID=5
[4] Tuhfatul Ahwadzi 7/238
[5] Fatawa Al-Islamiyah 2/316, sumber:http://islamqa.info/ar/33760