Pemimpin Rumah Tangga Yang Membiarkan Kemungkaran Di Rumah Tangganya

Posted on
loading...
dalam+ruamh+1 Pemimpin Rumah Tangga Yang Membiarkan Kemungkaran Di Rumah Tangganya

Bismillah….


Dari Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Bilal dari Abdullah bin Yasar Al-A’raj, Salim bin Abdullah telah meriwayatkan kepada kami Dari bapaknya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,   

tiga golongan yang tidak akan masuk sorga: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dayyus (suami yang tidak mempunyai kecemburuan terhadap istrinya yang berbuat maksiat) dan perempuan yang ibarat laki-laki.”
Barangsiapa (seorang suami) yang mengetahui bahwa istrinya telah melaksanakan perbuatan maksiat kepada Tuhan ta’ala, tetapi ia bersikap acuh. Hal tersebut mungkin dilakukan oleh suami tersebut alasannya ialah rasa cinta kepada istrinya atau di karenakan ia mempunyai hutang dan ia tidak bisa membayarnya atau alasannya ialah anak-anaknya yang masih kecil-kecil.(imam Adz-Dzahabi)
Inilah fenomena yang terjadi di zaman kita kini ini, dimana pria yang tidak merasa cemburu sedikitpun terhadap istri-istri dan anak-anaknya sehingga membiarkan mereka di rusak oleh keadaan zaman sekarang, mirip membiarkan istri dan bawah umur mereka mengikuti model-model pakaian yang tidak menutup aurat, menonton acara-acara rusak yang ada pada kotak asing (televisi), membiarkan mereka merokok, pacaran, keluar rumah untuk bekerja di tempat-tempat bercampur baurnya antara pria dan perempuan dan yang anehnya dikala istrinya berzina mereka hanya cengar cengir di televisi naudzubillahi min dzaalik! Alangkah hinanya orang mirip ini tidak mempunyai rasa cemburu dan aib sedikitpun. Bukankah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
jika engkau tidak aib perbuatlah apa engkau kehendaki.
Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata dalam klarifikasi ihwal dayyus tersebut, bahwasanya telah banyak orang yag tersesat yang hanya memperhatikan perkembangan harta bendanya saja. Sehingga seluruh pikiran fisik mereka di sibukkan dengan harta tersebut sehingga melalaikan waktu istirahat dan jam tidur serta melupakan istri dan anak-anak. Padahal harta benda tersebut tidak lebih berharga bila dibandingkan keluarga dan anak-anak.
Bukankah lebih pantas bagi mereka untuk mengkhususkan sedikit saja dari kelebihan nalar pikiran dan fisik mereka mendidik keluarga dan bawah umur sehingga dengan demikian mereka (anak dan istri) menjadi orang yang bersyukur atas nikmat Tuhan Ta’ala limpahkan kepadanya dan termasuk orang yang mengamalkan perintah Tuhan Ta’ala,
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang materi bakarnya ialah insan dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Tuhan terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. At-Tahriim: 6).
Sesungguhnya Tuhan Ta’ala telah memberi kita kekuasaan dan membebani kita tanggung jawab terhadap keluaga. Tuhan telah memberi perintah kepada kita untuk menjaga keluarga kita dari api neraka yang sangat menakutkan. Tuhan Ta’ala tidak memerintahkan kita untuk menjaga diri kita saja. Akan tetapi kita harus menjaga diri kita sendiri dan keluarga kita. Salah satu hal yang mengherankan ialah banyak kepala keluarga yang melalaikan perintah Alloh Ta’ala terhadap hak bawah umur dan keluarga mereka. Apabila api dunia menyambar anaknya maka secepatnya ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melindunginya dan bergegas kedokter untuk mengobatinya. Sedangkan terhadap api akhirat, ia sama sekali tidak berusaha untuk menyelamatkan keluarga dan anak-anaknya dari api darul abadi tersebut.
Wahai setiap kepala keluarga, bahwasanya setiap orang berkewajiban untuk mengawasi keluarga dan anak-anak, baik dikala mereka beraktifitas atau sedang istirahat dirumah, dikala sedang bepergian dan dikala mereka pulang, dikala bersama teman-temannya dan dikala sedang sendirian. Sehingga kita benar-benar mengetahui segala urusan yang mereka lakukan dan kitapun meyakini arah dan jalan yang ditempuh mereka. Sehingga kebaikan dilihat sebagai kebaikan dan kejahatan akan ditolaknya, mengajak mereka berdialog, mendengarkan keluhan mereka dan menjawab pertanyaan mereka. Tidak memarahi mereka sehingga menelantarkan mereka. Karena hal tersebut hanya akan menambah peristiwa dan kerusakan.
Apabila seorang insan tidak melaksanakan pengawasan terhadap keluarga dan anak-anaknya serta tidak mendidik mereka dengan pendidikan yang baik, kemudian siapakah yang akan melakukannya? Apakah orang yang melakukannya orang-orang yang jauh dan orang-orang yang tidak mempunyai relasi kekerabatan dengan mereka?Atau akan membiarkan saja mereka diterjang arus pemikiran-pemikiran yang menyesatkan, paham-paham yang menyimpang, dan perilaku-perilaku yang rusak?
Mereka nantinya akan tumbuh jadi generasi yang bobrok, tidak akan memelaihara agama Tuhan serta tidak menjaga kehormatan dan hak-hak manusia. Suatu generasi yang anarkis yang tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kasus yang mungkar. Hidup bebas dari segala bentuk penghambaan, kecuali penghambaan kepada setan. Hidup lepas dari segala ikatan(aturan), kecuali ikatan kepada setan. Benar, alhasil nanti akan mirip itu, kecuali bila Tuhan berkehendak lain.

loading...

Ada sebagian orang beralasan dengan mengatakan,”aku sudah tidak mampu lagi mendidik anak-anakku. Karena mereka sudah besar-besar dan sudah berani bertindak absolut kepadaku!” maka tanggapan kita atas apa yang mereka katakan tersebut ialah kalaulah kita mendapatkan alasan ini sebagai suatu bantahan atau memang merupakan kenyataan terjadi, kemudian kita memikirkannya, maka kita akan temukan ternyata kitalah penyebab jatuhnya kewibawaan diri kita sendiri di hadapan mereka. Karena kita telah mengabaikan perintah Tuhan ihwal mereka pada awal pertumbuhannya, sehingga mereka tidak patuh dan tidak mendapatkan kode dari kita sebagai orang tua. Apabila semenjak awal kita bertaqwa kepada Tuhan kemudian menunjukkan pendidikan kepada mereka dari sisi yang diperintahkan, pasti urusan kita dunia dan darul abadi akan lebih baik hasilnya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kau kepada Tuhan dan Katakanlah perkataan yang benar, Niscaya Tuhan memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Tuhan dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia Telah menerima kemenangan yang besar.(QS. Al-Ahzaab: 70-71)

Semoga Tuhan Ta’ala member taufiq dan hidayah kepada kaum muslimin dan di jauhkan dari kasus dayyus tersebut, sehingga kita berupaya untuk mendidik keluarga dan bawah umur kita dengan benar sesuai dengan tuntunan Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam…Aamiin..
by Abu Muhammad


[1] HR Al-Hakim didalam kitabnya Al-Mustadrak.
[2] HR. Bukhari
[3] Adh-Dhiyaaul Laami’, khutbah ke empat, Wujuubu Ri’aayatil Aulaadi wal Ahli.
[4] Al-Kaba’ir syarah syaikh Shalih Al-Utsaimin. Pustaka Darus Sunnah

loading...