Sebab-Sebab Terjadinya Kesyirikan

Posted on
loading...

bahaya+syirik Sebab-Sebab Terjadinya Kesyirikan

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa, Allahlah kawasan bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak juga diperanakkan, serta tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Shalawat dan salam buat junjungan alam yakni Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

loading...
Memahami sebab-sebab terjadinya kesyirikan yaitu kasus yang sangat penting, biar kita sanggup menjauhkan diri darinya, alasannya yaitu kesyirikan yaitu dosa yang paling besar. Karena Tuhan telah mengabarkan dalam firman-Nya bahwa orang yang melaksanakan kesyirikan maka akan diharamkan baginya syurga dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kalau pelakunya tidak bertobat. Sehingga seorang muslim seharusnya berhati-hati dan sangat takut untuk terjerumus kepadanya. Bahkan Rasulullah sendiri selalu memohon dukungan kepada Tuhan dari kesyirikan dalam do’a yang ia panjatkan : 
“Ya Allah, bahwasanya saya berselindung kepada-Mu dari perbuatan syirik sedang saya mengetahuinya dan saya memohon ampun kepada-Mu dari yang tidak saya ketahui”. (HR. Ahmad 4/403 dan lihat Shahih Al-Jami’ 3/233)
Pada dasarnya penyebab timbulnya kesyirikan sangat banyak sekali, dan pada pembahasan singkat ini kita berusaha menyebutkan pokok-pokoknya yang kemudian dari pokok inilah menjadi bercabang, diantara pokok-pokok tersebut yaitu :
1. Berlebih-lebihan dalam memuji Rasul atau memuji orang shaleh.

Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memperingatkan akan hal itu dalam sabda ia :
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa anak Maryam, bahwasanya saya hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah hamba Tuhan dan rasul-Nya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika berlebih-lebihan dalam memuji Nabi yaitu sesuatu yang terlarang, tentu lebih terlarang lagi kalau hiperbola dalam memuji selain ia dari orang-orang shaleh atau yang lainnya. Dan hal inilah yang merupakan penyebab kesyirikan pertama dalam kehidupan umat manusia, yaitu pada umat Nabi Nuh ‘Alaihissalam, sebagaimana yang diceritakan Tuhan dalam firman-Nya :

“Dan mereka berkata ; Jangan sekali-kali kau meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kau dan jangan pula sekali-kali kami meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr”. (QS. Nuh : 23)

Ibnu Abas saat menafsirkan ayat ini menyampaikan : Kelima nama ini yaitu nama orang-orang shaleh dari kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam. Maka tatkala mereka (orang-orang shaleh) itu wafat, syetan mensugesti kaum Nabi Nuh biar menciptakan patung-patung mereka di majelis yang biasa mereka duduk padanya dalam rangka mengingat orang-orang shaleh tersebut, dan syetan juga mensugesti mereka biar memperlihatkan nama patung tersebut sesuai dengan nama orang-orang shaleh itu, maka merekapun melakukannya. Ketika itu patung-patung itu belum disembah. Akan tetapi saat orang-orang yang menciptakan patung tersebut meninggal dunia dan ilmu agama telah hilang maka patung-patung itupun disembah. (HR. Bukhari 8/667 dan lihat tafsir Ibnu Katsir)
 
Berlebih-lebihan dalam memuji Rasul atau orang-orang shaleh yaitu dengan menempatkan mereka sejajar dengan Allah, baik dalam kebanggaan ataupun keyakinan akan sifat dan ilmu mereka, beristighatsah (meminta perlindungan) kepada mereka saat tertimpa bencana, tawaf dikuburan mereka, tabarruk (mencari berkah) dari kuburan atau barang-barang peninggalan mereka, bertawassul (menjadikan perantara) dengan mereka dalam do’a, menyembelih di kuburan-kuburan mereka dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada mereka, berdo’a dan meminta tolong kepada mereka padahal mereka telah meninggal dunia dan lain sebagainya.

Sebagian orang mengatasnamakan perbuatan-perbuatan tersebut sebagai wujud kecintaan kepada Nabi atau orang-orang shaleh dan ini yaitu anggapan yang keliru lagi menyesatkan, justru perbuatan ini yaitu kesyirikan yang sangat konkret yang telah diperingatkan Tuhan dan rasul-Nya.

Mencintai Nabi dan orang shaleh pada hakikatnya yaitu sesuai dengan apa yang telah diajarkan Al-Quran dan Sunnah serta apa yang telah dicontohkan oleh para salafus-Shaleh, yaitu dengan mengetahui keutamaan-keutamaan mereka dan mencontoh mereka dalam amal shaleh, tanpa meremehkan atau berlebih-lebihan terhadap mereka. Tuhan Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan orang-orang yang tiba setelah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a ; Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, bahwasanya Engkau Maha Penyantun lagi Maha penyayang”. (QS. al-Hasyr : 10)


2. Ta’ashshub (fanatisme)  
Fanatik terhadap tradisi dan peninggalan nenek moyang, walaupun itu bathil dan bertentangan dengan yang hak khususnya dalam duduk kasus aqidah.

Tuhan berfirman dalam Al-Quran :
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab , (tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk”. (QS. al-Baqarah : 170)

Dalam ayat yang lain Tuhan juga berfirman :
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kau seorangpun sebagai pemberi peringatan dalam suatu negeri melainkan orang-orang yang hidup glamor (para pembesar) di negeri itu berkata ; Sesungguhnya kami mendapat bapak-bapak kami menganut suatu agama dan bahwasanya kami yaitu mengikuti jejak-jejak mereka”. (QS. az-Zukhruf : 23)

Hal inilah yang tertanam pada diri kaum musyrikin dari zaman dahulu hingga sekarang, dimana mereka sangat fanatik kepada peninggalan dan susila istiadat nenek moyang, dan lantaran itu mereka tidak segan-segan untuk berpaling dan menepis kebenaran yang bersumberkan kepada Al-Quran dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan ada juga diantara mereka yang menyalahkan kebenaran tersebut dengan banyak sekali dalih dan sebutan, ibarat aliran baru, menyelisihi tradisi, memecah belah umat, menciptakan bingung dan sebagainya.

Sehingga kita akan menemukan kisah para nabi dan rasul dalam al-Quran, dalam menghadapi kaum mereka sering berhadapan dengan orang-orang yang berwatak ibarat ini, ibarat kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan kaumnya dalam surat Al-Mukminun : 23 dan 24, kaum Nabi Shaleh dalam surat Hud : 62, kaum Nabi Ibrahim dalam surat as-Syura : 73, kaum musyrikin jahiliyah dalam surat Shad : 6 dan 7 serta kisah-kisah yang lainnya.

Maka, sudah sewajarnya para ulama dan para da’i yang menyeru umat kepada risalah tauhid juga akan mengalami hal yang serupa, akan mendapat tantangan dan kecaman dari orang-orang yang begitu fanatik kepada peninggalan dan fatwa nenek moyang kendatipun hal tersebut bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Dan dari kefanatikan inilah akibatnya timbul perilaku menentang dan berpaling dari kebenaran yang kemudian akan berujung kepada kesyirikan.

Mungkin saja alasan mereka untuk tetap pada fatwa nenek moyang walaupun bertentangan dengan kebenaran yaitu lantaran rasa penghormatan kepada leluhur dan sesepuh mereka, sehingga kalau kita tidak menjalankan ibarat apa yang ada pada mereka seperti ada rasa penentangan dan meremehkan mereka, bukankah dalam Islam kita diperintahkan untuk patuh dan menghormati orang renta ?

Dalih ini mungkin sanggup kita jawab dengan firman Tuhan Ta’ala :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Tuhan dan rasul-Nya, dan bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Hujurat : 1)

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Tiga hal yang kalau ada pada seseorang maka ia akan mencicipi manisnya iman, hendaklah Tuhan dan rasul-Nya lebih ia cintai dari yang lainnya ……”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan sabda ia :

“Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta”. (HR. Muslim)

Dari ayat dan hadits di atas jelaslah bagi kita bahwa barometer dalam kebenaran yang mesti kita ikuti yaitu Tuhan dan rasul-Nya, bukan perasaan dan hawa nafsu, sekaligus memperlihatkan kebathilan dalih dan alasan yang mereka kemukan.

3. Kebodohan terhadap aqidah yang benar.


Keengganan untuk mempelajari atau mengajarkan aqidah yang benar atau sangat sedikitnya perhatian terhadapnya, maka akan melahirkan generasi yang tidak mengenal aqidah yang benar tersebut serta tidak menyadari kedudukannya dalam kehidupan mereka, atau mereka tidak lagi mengetahui hal-hal yang menyelisihinya dan membatalkannya. Sehinga pada akibatnya mereka tidak lagi sanggup membedakan yang hak dengan yang bathil, atau bahkan meyakini yang bathil itu hak dan yang hak itu yaitu suatu kebathilan, Allahul Musta’an.

Amirul mukminin Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan bahwa : Sesungguhya nilai-nilai keislaman itu akan dicabut sedikit demi sedikit, kalau di dalam Isla tumbuh dan berkembang orang-orang yang tidak mengenal jahiliyah.

Oleh lantaran itu agama kita mewajibkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu dan memberantas kebodohan, mengenal yang hak biar mereka sanggup mengikutiya sekaligus mengetahui yang bathil biar mereka sanggup membentengi diri darinya.

Maka kebodohan yaitu awal dari kebinasaan, lantaran kebodohan seseorang akan jauh dari jalan Allah, lantaran kebodohan seseorang akan berpaling dari agama Allah, lantaran kebodohan seseorang akan terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa, lantaran kebodohan seseorang akan karam dalam kesyirikan, lantaran kebodohan ….., lantaran kebodohan …

Mungkin seseorang akan menyampaikan : bukankah Tuhan tidak menghukum seseorang kalau ia udik (tidak mengetahui) ? Kita bisa menjawabnya dengan menyampaikan : Benar, tetapi bukankah Tuhan dan rasul-Nya memerintahkan kita untuk tau. Apa yang anda katakan benar adanya kalau anda telah berusaha, namun kalau hal tersebut setelah ada perjuangan atau berada di luar kemampuan anda, lantaran Tuhan berfirman : “Allah tidak membebani kecuali apa yang mereka bisa untuk memikulnya” (QS. al-Baqarah : 286)

Dan lihatlah bagaimana Tuhan kelak akan membantah apa yang diungkapkan oleh orang-orang yang beralasan bahwa mereka telah dibodohi oleh nenek moyang mereka sementara mereka tidak tahu, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-A’raf : 38.

Inilah beberapa alasannya yaitu pokok yang mengakibatkan timbulnya kesyirikan yang telah diperingatkan oleh Tuhan dan rasul-Nya kepada kita semua biar kita sanggup menjauhinya dalam kehidupan kita, lantaran kesyirikan tersebut yaitu dosa besar yang sanggup menciptakan seseorang keluar dari agama Islam dan menimbulkan pelakunya infinit di dalam api neraka, Nas-alullah as-Salamah Wal ‘Afiyah.

Abu Thohir, Lc

Maraji’ :

1. Al-Quran dan hadits.
2. Al-Irsyad Ila Shahih Al-I’tiqad, Syeikh Sholeh Fauzan Al-Fauzan.
3. At-Ta’liqat ‘Ala Kasyf Asy-Syubuhat, Syeikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin.
4. Hadzihi MAfahimuna, Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh
sumber : buletin MTIB Sumbar

loading...