Seorang Muadzin Juga Disunnahkan Membaca Doa Sehabis Adzan

Posted on
tumblr_ouwqakwety1vgd8moo1_1280 Seorang Muadzin Juga Disunnahkan Membaca Doa Sehabis Adzan

Faidah: Seorang muadzin juga disunnahkan membaca doa sehabis adzan.
=====
Ada seorang ustadz mengatakan, bahwa seorang muadzin tidak dibenarkan membaca doa sehabis adzan, alasannya yaitu sasaran hadits wacana doa itu yaitu orang yang mendengarkan adzan, bukan orang yg mengumandangkan adzan.
Kita katakan, pendapat ini jauh dari kebenaran, alasannya yaitu seorang muadzin juga masuk dalam keumuman hadits wacana tawaran doa sehabis adzan tersebut, alasannya yaitu dia juga termasuk orang yang mendengarkan adzan, meski yg dia dengar yaitu adzannya sendiri.
Hal ini telah ditegaskan oleh para ulama dalam 4 madzhab semenjak dahulu.. dan banyak juga ulama kontemporer yang menegaskan hal ini.
Syeikh Muhammad Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:
“Pendapat yang terperinci (kuat), bahwa seorang muadzin juga berdoa (setelah adzan), alasannya yaitu doa ini tidak ada yang serupa dengannya dalam adzan.
Hanya saja dia tidak menjawab (adzan) dirinya sendiri sebagaimana hal itu dikatakan oleh sebagian ulama. Sebagian ulama menyampaikan bahwa seorang muadzin juga (dianjurkan) menjawab adzannya sendiri, sehingga jikalau dia mengatakan: Allahu Akbar dengan bunyi keras; ia menyampaikan dg bunyi lirih (setelahnya) Allahu Akbar…
Dengan keterangan ini, berarti semua lafal adzan itu terulang-ulang, yang pertama dengan adzannya, yang kedua dengan tanggapan dia sendiri. Namun pendapat ini lemah, alasannya yaitu Rasul -shallallahu alaihi wasallam- mengatakan: “jika kalian mendengar muadzin, maka katakanlah …”, ia di sini membedakan antara pendengar dengan muadzin.
Adapun dzikir (doa sehabis adzan), maka alasannya yaitu muadzin tidak mengatakannya dikala adzan, maka hendaknya dia mengatakannya sehabis adzan sebagaimana orang lain.
Maka yang benar, bahwa doa sehabis adzan itu meliputi muadzin dan pendengarnya”. (yakni disunnahkan bagi keduanya untuk berdoa sehabis adzan, alasannya yaitu keumuman hadits itu meliputi keduanya).
Ustadz Musyaffa ad Darany, MA hafidzahullah.