Sikap Seorang Muslim Dikala Terjadi Fitnah

Posted on
ww Sikap Seorang Muslim Dikala Terjadi Fitnah



بســـم الله الرحمن الرحيم

 Defenisi الفتن = jamak dari الفتنة maknannya cobaan dan ujian, kemudian banyak dipakai untuk makna ujian yang di benci[1]
Ratusan tahun kemudian Rasulullah telah bersabda tolong-menolong umatnya akan terkena fitnah dan huru haranya, hari ini di zaman kita hidup kini ini tak ada yang terluput dari fitnah dan telah memasuki rumah-rumah kaum Muslimin sebagaimana sabda ia :

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَشْرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ فَقَالَ هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى قَالُوا لَا قَالَ فَإِنِّي لَأَرَى الْفِتَنَ تَقَعُ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ كَوَقْعِ الْقَطْرِ

Dari Usamah bin Zaid radliallahu ‘anhuma, mengatakan; Pernah Nabi shallallahu ‘alaii wasallam menaiki sebuah benteng Madinah lantas mengatakan; “apakah kalian melihat apa yang saya lihat?” Mereka menjawab; ‘Tidak.’ Beliau bersabda: “Sungguh saya melihat fitnah telah terjadi ditengah-tengah rumah kalian sebagaimana hujan turun.”[2]
Dan diantara nasehat Rasulullah ketika terjadi fitnah ialah dengan tidak mendatanginya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ح قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَحَدَّثَنِي صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ فَمَنْ وَجَدَ مِنْهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

dari Abu Hurairah menuturkan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan terjadi fitnah, ketika itu yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang bangun lebih baik daripada yang berjalan, yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa berusaha menghadapi fitnah itu, justru fitnah itu akan mempengaruhinya, maka barangsiapa menerima daerah berlindung atau base camp pertahanan, hendaklah ia berlindung diri di daerah itu.”[3]
Fitnah juga sanggup menimbulkan seseorang menjadi kafir sebagaimana sabda Nabi :

بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah berzakat sebelum datangnya rangkaian fitnah ibarat sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang pria di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad No. 8493)

Ingatlah tolong-menolong fitnah tidak menimpa orang-orang yang buruk saja, akan orang yang baikpun akan terkena imbasnya juga sebagaimana firman Yang Mahakuasa ta’ala  :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً
“ Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu”.(QS.Al-Anfal : 25 )

Berkata al-Alusiy dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini
tafsir perihal fitnah ada pada ayat ini telah ditafsirkan keseluruhannya diantaranya : bermanis anggun ketika amar ma’ruf nahi mungkar juga diantaranya perpecahan dan perselisihan juga diantaranya meninggalkan pengingkaran terhadap bid’ah ketika munculnya dan selainnya.
kemudian syaikh berkata : dan setiap makna termasuk apa yang mengharuskan suatu masalah.
yakni :bahwasanya ketika terdapat pada suatu zaman, zaman perpecahan dan perselisihan, maka sebagian kita dengan sebagian lainnya
memberi peringatan dengan firman Yang Mahakuasa ta’ala  :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً
yakni menjaga diri dari perpecahan dan perselisihan tidak akan menimpa hartanya juga tidak menimpa penghasilannya dan khusus orang-orang yang zholim diantara mereka saja akan tetapi juga menimpa keseluruhannya, tidak di khususkan pada sebagian saja-seperti perpecahan dan perselisihan-seperti kezholiman saja[4]
Dan para ulama telah banyak mengarang dan menganjurkan biar ketika terjadi fitnah kita melihatnya secara jeli dan mengembalikannya kepada ulil amri(sebagian pendapat menyebutkan tolong-menolong ulil amri ialah ulama dan jago fiqih lihat tafsir al-Baghawiy dan al-Faqih wal Mutafaqih al-Khotib al-Baghdadiy) sebagaimana firman Yang Mahakuasa ta’ala :

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila tiba kepada mereka suatu isu perihal keamanan ataupun ketakutan, mereka kemudian menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah lantaran karunia dan rahmat Yang Mahakuasa kepada kamu, tentulah kau mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”.(QS.an-Nisaa : 83)

Karna para ulama lah yang lebih paham perihal fitnah yang terjadi menurut dalil-dalil syar’I, sebagaimana sebuah ungkapan “para ulama mengetahui fitnah sebelum terjadinya, adapun orang awam mengetahui fitnah setelah terjadinya”.
dan ada sebuah kitab yang di tulis oleh syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syaikh yang berjudul “Dhowabit as-Syari’ah Li Mawqiful Muslim fil Fitan”  berikut kami nukilkan perkataan syaikh bagaimana kaedah menghadapi fitnah.
Sebagimana kami nukilkan perkataan ia di bawah ini..
Adalah ketika terjadi fitnah, atau terjadi perubahan, hendaklah engkau bersikap lemah lembut, berhati-hati, bersikap bijak dan tidak tergesa-gesa.

Inilah kaedah penting, hendaklah engkau berlemah lembut, berhati-hati, dan hendaklah engkau bijak.
Ada tiga masalah :

Pertama :”Bersikap lemah lembut”

Sesungguhnya Nabi telah bersabda dan telah tertulis dikitab ash-shohih :

((ما كان الرفق في شيء، إلا زانه، ولا نزع من شيء، إلا شانه))

tidaklah suatu kelembutan di letakkan pada sesuatu kecuali dia akan menghiasinya, dan tidaklah di 
cabut pada sesuatu kecuali merusaknya[5]

Berkata para jago ilmu : sabda ia : (ما كان الرفق في شيء، إلا زانه) inilah ungkapan ((شيء)) nakirah tiba dalam bentuk penafian, yang asalnya menentukan, dikarenakan ia mengenai segala sesuatu, yakni : tolong-menolong kelemah lembutan terpuji di setiap masalah seluruhnya.
Ini telah shohih tiba dari Nabi ((sesungguhnya Yang Mahakuasa menyayangi kelembutan dalam setiap masalah keseluruhannya)) telah bersabda ia alaihis sholatu wa as-salam kepada ‘Aisyah as-Shidiqah bintu as-Shidiq dan dibentuk adegan oleh al-Bukhari dalam as-Shohih di sebut Bab”berlemah lembut dalam setiap masalah keseluruhannya”.
Dalam setiap masalah hendaklah bersikap lemah lembut dan hendaklah bagimu tetap tenang, jangan terpancing emosi, dan jangan menjadi hilangnya kelemah lembutan, sesungguhnya lemah lembut tidak akan pernah menjadikanmu menyesal setelahnya dan selamanya, dan tidaklah lemah lembut di letakkan di setiap masalah kecuali akan menghiasinya, dalam berfikir, dalam berpendapat,terhadap apa yang di temui, dari apa-apa yang ingin dihukumi, terhadap apa yang di inginkan untuk di simpulkan padanya.
Hendaklah engkau berlemah lembut, tidak tergesa-gesa, janganlah engkau bersama orang yang tergesa-gesa jikalau mereka tergesa-gesa, dan janganlah bersama orang-orang yang cepat bereaksi jikalau mereka orang-orang yang cepat bereaksi, dan hendaklah bagimu tetap berlemah lembut, sebagaimana sabda Nabimu al-Mushthofa ((sesungguhnya kelembutan jikalau di letakkan atas sesuatu kecuali ia akan membuatnya indah))
Maka hiasilah, dan ambilah masalah yang membuatnya menjadi indah, dan bawalah masalah yang akan membuatnya jadi baik, dan hendaklah bagimu menjauhi masalah yang tercela dan dia akan mencabut dari perkataanmu atau perbuatanmu kelembutan dalam setiap masalah keseluruhannya.

Perkara yang kedua : “Kehati-hatian”.

Bersabda al-Mushthofa kepada Asyad Abdul Qois :

((إن فيك خصلتين يحبهما الله و رسوله : الحلم و الأناة))

“sesungguhnya pada dirimu terkumpul dua sifat yang di cintai Yang Mahakuasa dan rasul-Nya : bijaksana dan kehati-hatian”

Kehati-hatian ialah sifat terpuji, dan inilah firman Yang Mahakuasa Jalla wa ‘Alaa :

وَيَدْعُ الْإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا

Dan insan berdo’a untuk kejelekkan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan ialah insan bersifat tergesa-gesa.”(QS: al-Israa : 11).

Berkata para jago ilmu : inilah padanya kehinaan pada insan ketika tergesa-gesa, lantaran ini ialah sebuah karakter, siapa yang ada masalah ini padanya, ialah tercela dengannya, dan inilah sebabnya Nabi tidaklah tergesa-gesa.

Adapun masalah ketiga : ialah “Bijak”

bersikap bijak ketika terjadi fitnah berbaliknya keadaan ialah perilaku yang terpuji, karenanya dengan bersikap bijak mungkin (terlihat) hakikat sesuatu, mungkin dengan bersikap bijak akan kita lihat sebuah masalah atas apa yang ada padanya.
Telah tetap di shohih muslim dari hadist Laits bin Sa’ad dari Musa bin Ulayya dari bapaknya : dari Mustaurid al-Qurasyi dahulu di sisinya Amru bin al-Ash radhiallahu ‘anhu berkata : saya telah mendengar dari Rasulullah bersabda :

((تقوم الساعة و الروم أكثر الناس))

Kiamat akan terjadi tatkala ar-Rum(bangsa eropa & amerika ketika ini) ialah manusia(bangsa) terbanyak”.

Berkata Amru bin al-Ash kepadanya-kepada Mustaurid al-qurasiy-jelaskan apa yang engkau sebutkan! Kemudian beliau(Mustaurid) berkata : tidaklah patut bagiku berkata kecuali apa yang di katakan Rasulullah ? kemudian Amru bin al-Ash berkata : benarlah demikian keadaannya : dan sesungguhnya bagi orang-orang ar-Rum ada empat sifat : pertama : tolong-menolong mereka ialah bangsa yang paling bijak ketika terjadi huru-hara, kedua”: bangsa yang paling cepat sadar ketika terjadi musibah……….……..yang di sebutkan ada empat sifat akan tetapi ada pelengkap baginya yang kelima..

(sekedar pelengkap dari penulis)” ketiga” : bangsa yang paling cepat menyerang kembali setelah lari dari peperangan, “keempat” : bangsa yang paling baik perlakuannya terhadap orang miskin, anak yatim dan orang lemah, adapun sifat baik yang “kelima” : mereka ialah bangsa yang paling tahan terhadap kezholiman raja-raja..

Berkata para jago Ilmu : inilah perkataan dari Amru bin al-Aash tidak menginginkan darinya untuk memuji atas ar-Rum dan nashoro dan orang kafir, tidak!, akan tetapi untuk menjelaskan kepada kaum Muslimin tolong-menolong nanti bangsa ar-Rum ialah bangsa terbanyak hingga terjadinya hari final zaman di karenakan mereka disebutkan dalam hadist al-fitan mereka ialah insan yang bijaksana, tolong-menolong pada mereka ada sifat bijaksana terhadap apa yang terjadi pada mereka dan mereka melihat kepada setiap masalah kemudian mencari solusinya, barangkali tidak untuk melihat kepada diri mereka, dan melihat kepada saudara mereka..
Inilah yang di sanggup dari apa yang di sebutkan as-Sanusiy dan ayahku apa yang mereka jelaskan dari “shohih Muslim”.
Dan inilah peringatan yang halus, di karenakan Nabi menjelaskan tolong-menolong tidak akan tegak hari final zaman hingga ar-Rum menjadi bangsa terbanyak, kenapa?!
Berkata Amru al-Aash : ((di karenakan pada mereka ada empat sifat : pertama “mereka insan paling bijak ketika terjadi fitnah(huru-hara)”)) yakni : jikalau muncul suatu perubahan, dan munculnya fitnah, dan merekalah yang paling bijak dalam bersikap, tidak pribadi dengan emosi, untuk melindungi saudara mereka nashoro dari pembunuhan dan melindungi mereka dari fitnah, di karenakan mereka mengetahui tolong-menolong ketika fitnah telah muncul, dan itu akan tiba kepada mereka, barangkali itulah sifat yang ada pada mereka dan final dari mereka ialah bangsa terbanyak hingga hari kiamat.
Dan untuk inilah, sesungguhnya kami jawab tolong-menolong kami tidak mengambil dengan sifat yang telah di puji dengannya ar-Rum oleh Amru bin al-Aash, dan pada mereka ada sifat-sifat yang terpuji, dan kami yang terdepan di setiap kebaikan disisi setiap orang diantara mereka.
Bijaksana ialah sifat yang terpuji di setiap masalah seluruhnya…karna ia pemberi kabar nalar orang yang berilmu ketika terjadi fitnah dengan kebijaksanaannya dan kehati-hatiannya, dan kelembutannya, dan menyampaikan kepada berilmu dan diatas bashirahnya.
Dan inilah dhowabit awal, dan inilah kaedah yang utama dimana ahlu sunnah wal jama’ah yang dengannya melihat ketika terjadi fitnah-fitnah, dan berubahnya keadaan.
Semoga saja kita selalu terbimbing dengan wahyu dan tetap istiqomah ketika fitnah menimpa umat ini secara bertubi-tubi sebagaimana ombak yang tiba silih berganti yang terkadang menghantam dengan kerasnya dan beriak-riak dengan halusnya, dan jangan lupa membaca do’a yang di ajarkan Nabi biar berlindung dari fitnah sebagaimana sabdanya :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ.
 “Ya Allah! Sesungguhnya saya berlindung kepadaMu dari siksa kubur. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah Almasih Dajjal. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan sehabis mati. Ya Allah, Sesungguhnya saya berlindung kepadaMu dari perbuatan dosa dan kerugian.” [6]

Dan banyak do’a-do’a yang semisal perihal fitnah. Semoga saja goresan pena singkat ini bermanfa’at dan sanggup kita amalkan. 

هدانا الله واياكم

و صلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Akhukum fillah
Hanif debu Muhammad
30 Muharram 1438/31 Oktober 2016
Sumber “Dhowabit as-Syari’ah Li Mawqiful Muslim fil Fitan”.
Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz alus Syaikh.



[1] Hari Kiamat Sudah Dekat. Yusuf alwabil. PIK

[2] HR. Bukhari 6/2589,2885. Muslim 4/2211
[3] HR.Muslim no.2887

[4] Ad-Dhowaabit as-Syar’iyyah liMawqif al-Muslim fil Fitan hal.7. Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz alus Syaikh.

[5] HR.Muslim, HR.Abu Dawud 5225
[6] HR. Al-Bukhari 1/202 dan Muslim 1/412.